Pertahanan

Disaster Recovery

Rencana dan kemampuan yang memulihkan sistem TI serta data setelah peristiwa yang mengganggu.

Definisi

Disaster recovery adalah kumpulan rencana, prosedur, dan kemampuan teknis terdokumentasi yang memulihkan sistem TI, aplikasi, dan data setelah peristiwa yang mengganggu, seperti kegagalan perangkat, serangan ransomware, banjir, atau kehilangan daya.

Disaster recovery adalah komponen teknologi dari gambaran keberlangsungan yang lebih luas. Dua angka menentukannya. Recovery Time Objective (RTO) adalah berapa lama sebuah sistem boleh tidak tersedia. Recovery Point Objective (RPO) adalah seberapa banyak data yang sanggup Anda kehilangan, dinyatakan sebagai rentang waktu. Keduanya keputusan bisnis, bukan keputusan teknis, dan menetapkannya secara jujur adalah bagian terbesar pekerjaannya.

Dalam perbankan Indonesia, disaster recovery center yang biasa disebut DRC adalah wujud konkret yang sudah dikenal. DRC adalah lokasi sekunder yang menampung sistem dan data yang diperlukan agar operasi tetap berjalan bila lokasi utama hilang, dan ekspektasi pengawas mencakup bukan hanya keberadaannya tetapi juga apakah sudah terbukti berfungsi.

Kegagalan yang paling lazim bukan tidak adanya rencana, melainkan tidak adanya pengujian. Rencana yang belum pernah dilatih cenderung gagal pada detail yang hanya muncul di bawah tekanan: kredensial kedaluwarsa, ketergantungan tak terdokumentasi, cadangan yang bisa dipulihkan tetapi tidak bisa berjalan, atau daftar kontak yang separuh nomornya sudah berubah. Ransomware membuat hal ini lebih tajam, karena jalur pemulihan yang bergantung pada cadangan yang terjangkau dari jaringan yang dibobol bisa ikut terenkripsi.

Sekilas info

Jenis
Kemampuan ketahanan
Juga dikenal sebagai
DR, DRP, disaster recovery plan, DRC, pemulihan bencana

Cara kerjanya

  1. 1

    Klasifikasikan sistem menurut kritikalitasnya, sebab tidak semuanya layak mendapat investasi pemulihan yang sama

  2. 2

    Tetapkan RTO dan RPO per sistem bersama pihak bisnis, bukan oleh TI sendiri

  3. 3

    Rancang kemampuan teknis untuk memenuhi target itu: cadangan, replikasi, lokasi atau region sekunder

  4. 4

    Dokumentasikan runbook-nya, termasuk kewenangan pengambilan keputusan dan urutan pemulihan

  5. 5

    Uji, lalu perbaiki apa yang gagal saat pengujian, lalu uji lagi pada siklus yang ditentukan

Poin utama

  • RTO adalah berapa lama Anda boleh mati; RPO adalah seberapa banyak data yang boleh hilang
  • Keduanya keputusan bisnis yang diterapkan TI, bukan sebaliknya
  • Disaster recovery center adalah praktik lazim di perbankan Indonesia dan menjadi objek pengawasan
  • Rencana yang belum diuji sebaiknya dianggap tidak berfungsi
  • Cadangan yang terjangkau dari jaringan produksi dapat ikut terenkripsi oleh peristiwa ransomware yang sama

Praktik terbaik

  • Simpan setidaknya satu salinan cadangan secara luring atau bersifat tidak dapat diubah, agar ransomware tidak dapat menjangkaunya
  • Uji pemulihan data yang sebenarnya, bukan hanya keberadaan pekerjaan pencadangan
  • Dokumentasikan urutan ketergantungan, sebab sistem jarang pulih dengan benar secara terpisah
  • Latih juga sisi manusianya: siapa yang menyatakan bencana, siapa yang berkomunikasi, dan bagaimana karyawan memverifikasi identitas saat sistem normal mati
  • Tinjau RTO dan RPO setiap tahun, karena kritikalitas bergeser seiring perubahan bisnis

Contoh nyata

Sebuah perusahaan multifinance di Indonesia memiliki cadangan harian dan rencana yang terdokumentasi. Saat insiden ransomware, cadangannya ternyata terjangkau dari domain yang sama dan ikut terenkripsi bersama produksi. Pemulihan memakan sebelas hari alih-alih RTO empat jam di atas kertas. Rencananya nyata; isolasi cadangannya tidak.

Bagaimana Claro membantu

Kemampuan pemulihan tidak mencegah insidennya. Di organisasi Indonesia pemicu paling lazim sebuah peristiwa pemulihan adalah ransomware, dan ransomware paling sering masuk melalui manusia: karyawan yang membuka lampiran atau memasukkan kredensial pada halaman yang meyakinkan. Claro mengukur dan menekan titik masuk itu, tempat intervensi yang paling murah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Disaster recovery adalah apa?

Disaster recovery adalah rencana, prosedur, dan kemampuan teknis terdokumentasi yang memulihkan sistem TI serta data setelah peristiwa yang mengganggu. Ia ditentukan dua target: berapa lama sistem boleh mati (RTO) dan seberapa banyak data boleh hilang (RPO).

Apa beda RTO dan RPO?

RTO, Recovery Time Objective, adalah waktu maksimum yang dapat diterima untuk sebuah sistem tidak tersedia. RPO, Recovery Point Objective, adalah jumlah maksimum kehilangan data yang dapat diterima, dinyatakan sebagai rentang waktu. RTO empat jam dengan RPO lima belas menit berarti kembali beroperasi dalam empat jam dengan kehilangan data paling banyak lima belas menit.

Apa itu disaster recovery center (DRC)?

DRC adalah lokasi sekunder yang menampung sistem dan data yang diperlukan agar operasi tetap berjalan bila lokasi utama hilang. Ini praktik baku di perbankan Indonesia, dan perhatian pengawas mencakup apakah sudah diuji, bukan hanya apakah ada.

Apa beda disaster recovery dan business continuity?

Disaster recovery adalah komponen pemulihan TI-nya. Business continuity lebih luas, mencakup cara seluruh organisasi tetap berfungsi, termasuk manusia, gedung, pemasok, dan penyelesaian manual. Disaster recovery berada di dalam business continuity.

Kurangi risiko manusia Anda

Claro mengukur dan menurunkan risiko yang dijelaskan istilah-istilah ini, dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Minta demo